Cinta Persib Cinta Bapak
Entah kenapa hari ini saya kepikiran tentang Persib di tahun 80an, ketika jaman Ajat Sudrajat cs. Rindu sekali dengan saat-saat itu, ketika pertama kali mengenal permainan sepakbola. Dengan beberapa teman yang juga bobotoh Persib (orang sunda memang semuanya bobotoh Persib saat itu) dan orang-orang tua yang saat itu memang banyak yang tergila-gila dengan sepakbola, kami sering mengikuti pertandingan-pertandingan yang dijalani oleh Persib Bandung yang menjadi kebanggaan orang sunda saat itu, baik melalui televisi (hanya ada TVRI) atau juga melalui siaran radio.
Sangat mengasyikkan dan menegangkan rasanya ketika menyaksikan pertandingannya. Apalagi kalo mengikuti pertandingan melalui radio, yang pembawa acaranya begitu heboh menggambarkan pertandingan (mungkin klo dengan bahasa anak muda sekarang, agak lebay), sangat membuat hati ini menjadi rindu. Dengan semangat 45 yang menggebu-gebu, sang pembawa acara berusaha menggambarkan apa yang terjadi diatas lapangan agar pemirsa yang mendengarkan bisa membayangkan kejadian yang sebenarnya.
“Ajat Sudrajat membawa bola, melewati dua pemain Persebaya bola kemudian dioper ke Djadjang Nurdjaman, Djadjang Nurdjaman mengembalikan bola kepada Ajat. Ajat mendekati kotak penalti lawan, melepaskan tendangan ke arah gawang dan ah sayang sekali pemirsa, tendangan Ajat masih jauh diatas mistar gawang Persebaya”
Ah… Saat-saat yang mengharukan, teringat kembali kenangan bersama almarhum bapak yang penggila bola. Kenangan yang tidak ternilai harganya, kebahagiaan yang tidak akan kembali lagi. Bapak, semoga Allah selalu menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi anakmu ini sewaktu masih kecil. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa bapak dan menerima segala amal ibadah bapak. Amin.
Ah… Tak terasa, air mata ini menetes. Maafkan anakmu ini bapak, yang tidak berbakti semasa engkau masih hidup dan seringkali lupa mendoakan ketika engkau sudah tiada.
Karet, 7 Agustus 2009
Mang Dudi


