Penilaian Alloh dan Penilaian Manusia

Penilaian manusia memang seringkali berbeda dengan penilaian Alloh, masih ingat tentang kisah seorang istri yang ditinggalkan suaminya untuk berjihad. Sang suami berpesan “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Kemudian ada orang yang membawa berita bahwa orang tuanya sakit keras dan ingin dijenguk, tetapi wanita itu menolak untuk menjenguk orang tuanya karena memegang amanah dari suaminya. Sampai akhirnya orang yang pembawa pesan dari keluarganya itu menyampaikan berita tentang kematian orang tuanya tersebut. Sang wanita tentu sangat sedih mendengarnya dan kemungkinan sangat ingin melihat wajah orang tuanya sebelum dikuburkan, tetapi tetap saja dia menolak untuk pergi dari rumahnya karena amanah suaminya yang tetap teguh ia jaga.

Kita sebagai manusia, apalagi manusia yang hidup di zaman sekarang mungkin akan menilai wanita itu sebagai anak yang durhaka, sebagai orang yang tidak memiliki perasaan, sebagai anak yang tidak tahu balas budi, dan banyak penilaian negatif lainnya. Tetapi penilaian kita sebagai manusia berbeda dengan penilaian Alloh, kita tentu tahu akhir kisah itu, bahwa orang tuanya itu masuk ke dalam syurga karena kesholihan anaknya itu. Kenapa bisa? Ya dalam penilaian Alloh, orang tua itu telah berhasil mendidik anaknya menjadi seorang istri yang sholihah. Kisah yang luar biasa.

Ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kita sebagai manusia sering kali salah dalam menilai sesuatu. Kebanyakan dari kita lebih berpegang pada apa yang disebut dengan kebenaran mayoritas, apa yang diyakini oleh sebagian besar orang adalah benar maka kita anggap hal itu sebagai kebenaran pula. Kita harus berhati-hati dalam menyikapi hal ini, jangan sampai terbawa oleh arus yang sebenarnya tidak benar ini. Jangan sampai kita menganggap berita yang banyak beredar di sekitar kita sebagai suatu kebenaran, dan ikut-ikutan untuk mengomentari hal tersebut. Sebaiknya kita tidak mengomentari hal-hal yang kita sendiri sebenarnya kurang faham dalam hal itu. Jangan sampai dosa kita bertambah karena kita tidak bisa menahan lidah kita untuk mengomentari suatu berita yang belum tentu kebenarannya. Untuk berita yang benar saja, kita bisa salah menilai. Seperti kisah tentang wanita sholihah yang telah diceritakan sebelumnya. Apalagi untuk berita yang kita tidak tahu kebenarannya yang begitu marak dewasa ini baik berita gossip ataupun berita-berita lain yang ada di media, utamanya di televisi. Kita tidak tahu siapa sebenarnya yang membawa berita itu, kita tidak tahu karakter orang yang menulis berita itu. Ada kemungkinan berita tersebut telah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menyudutkan pihak-pihak tertentu.

Maka cara yang paling tepat adalah tabayyun bila kita mendengar sebuah berita, terutama berita dari orang fasik. Seperti firman Alloh, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al-Hujuraat [49]: 6). Bila telah tahu kejadian yang sebenarnya dari berita tersebut, jangan langsung menilai isi berita tersebut sebagai suatu kebenaran. Dengan penilaian kita sebagai manusia bisa saja kita salah menilai tentang hakikat sebenarnya dari suatu kejadian, kebenaran absolut dari suatu berita. Tetapi alangkah tepatnya bila kita menelaahnya, mempelajarinya, lalu menilainya berdasarkan tuntunan yang telah diberikan Alloh dan Rosul-Nya. Apabila kita orang yang kurang faham tentang ilmunya, maka sebaiknya kita bertanya kepada orang yang ahli dan bisa kita percayai. Tetapi apabila menurut kita hal itu merepotkan, dan memakan waktu serta tenaga kita, padahal berita tersebut tidak ada artinya untuk kita, seperti berita gossip, pejabat yang berselingkuh, dan lain sebagainya. Maka sebaiknya kita diam dan tidak berkomentar, dan jangan menyebarkannya kepada orang lain apalagi sampai mencaci maki orang-orang yang terlibat didalamnya. Orang yang paling ahli dan faham pun bisa salah dalam menilai sesuatu, apalagi orang yang awam akan hal itu. Maka camkanlah hal tersebut baik-baik.

Alangkah indahnya bila manusia tidak terjerumus kepada penilaian yang salah, penilaian yang tidak benar hanya karena mengikuti hawa nafsu kita sendiri. Penilaian itu harus kita kembalikan kepada penilaian Alloh, kebenaran yang mutlak, kebenaran yang sebenar-benarnya. Kita hidup tidaklah lama di dunia, semoga kita bisa berbuat yang terbaik untuk diri kita, berbuat yang terbaik untuk orang lain, dan yang paling utama berbuat yang terbaik untuk Alloh Azza wa Jalla. Semoga kita bisa menjadi manusia yang terbaik di mata Alloh, walaupun harus telihat jelek di mata manusia. Semoga kita menjadi penilai yang baik, dan bukan sebagai penilai yang buruk. Semoga Alloh mengampuni segala dosa kita, atas penilaian kita yang salah pada orang lain. Amin.

Bogor, 18 Agustus 2009

Mang Dudi

3 comments so far

  1. Iday on

    Allah Maha Tahu

  2. Abdul Aziz on

    Assalamu’alaikum

    Allah Maha Mengetahui, manusia hanya sok tahu. Pengetahuan kita bersumber dari Allah. Dan itu pun yang diberikan sangat sedikit. Begitu kan dalam Al-Quran.

  3. hahahardididi on

    Ikut menyimak ya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.