Archive for the ‘Umum’ Category

Aa Gym yang berubah

Tanpa sengaja saya melihat acara Tatap Muka yang dipandu oleh Farhan di TVOne hari minggu, 23 Agustus kemarin. Sepertinya ada yang berubah dari sosok Aa Gym, saya melihat ada berbeda dari Aa Gym yang dulu dan yang sekarang. Perkiraan saya mungkin salah -karena mungkin saya sok tahu-, tapi saya merasa Aa di acara tersebut dalam setiap perkataannya yang mengomentari hal-hal yang berkaitan dengan dirinya setelah berpoligami, ada sedikit kesedihan dan kekecewaan didalamnya. Tetapi kesedihan itu bukan karena penurunan popularitasnya atau sedih urusan rumah tangganya setelah berpoligami -bukan, Aa bukanlah orang yang seperti itu, Aa bukanlah orang yang gila dengen popularitas-, tetapi kesedihan Aa lebih kepada sedih pada dirinya sendiri. Ya Aa mungkin sedih, karena setelah sekian lama berdakwah di masyarakat, setelah sekian lama dakwahnya terlihat menampakkan hasil, dalam sekejap semuanya sirna setelah Aa berpoligami. Aa sedih karena Aa tidak benar-benar berhasil merubah masyarakat yang didakwahinya, apa yang terjadi selama ini dakwahnya hanya mengena di permukaan saja, hanya bisa mencapai tampilan luar dari masyarakat, tanpa bisa menyentuh hati masyarakat dan memberikan pemahaman yang sebenarnya dari agama islam.

Ya bagaimana mungkin seorang Aa Gym yang tidak melanggar hukum apa-apa, tidak melanggar syariat manapun, menjadi kecaman dan hujatan sebagian orang hanya karena berpoligami? Bukankah yang lebih layak dikecam dan dihujat adalah praktek prostitusi yang selama ini mendapatkan pembenaran masyarakat? Seolah-olah berpoligami adalah sebuah kesalahan yang paling besar dan paling hina dimata sebagian besar masyarakat kita, jauh lebih hina dari prostitusi. Saat ini banyak orang yang telah menjadi hakim bagi seorang Aa Gym, merasa dirinya yang paling benar dan paling berjasa dan tanpa merasa berdosa terus menyalahkan seorang Aa Gym. Padahal jika dilihat, apa yang menjadi jasanya bagi masyarakat? Apa yang telah dilakukannya di masyarakat dibandingkan dengan apa yang telah diperbuat oleh Aa untuk masyarakat kita selama ini?

Namun Aa tidak seharusnya kecewa dan sedih terhadap tabiat dari kebanyakan masyarakat kita, karena kebanyakan masyarakat kita adalah masyarakat yang pragmatis. Mereka hanya melihat dalam kacamata yang sepotong-sepotong dan apa yang menguntungkan mereka saat ini. Sebagai contoh adalah dalam pemilu legislatif kemarin, sebuah partai yang telah bekerja keras hampir di setiap waktu di masyarakat ternyata perolehan suaranya tidak terlalu menggembirakan, karena kebanyakan masyarakat kita lebih cenderung memilih partai pemerintah yang mengandalkan figur dari ketua dewan pembinanya yang saat ini menjabat sebagai presiden. Walaupun partai pemerintah tersebut tidak jelas kinerjanya dimasyarakat, apalagi figur-figur yang ada didalamnya yang akan menjadi anggota dewan dari partai tersebut. Ya itulah potret sebagian masyarakat kita, tidak melihat sesuatu secara menyeluruh, tidak menghargai kerja keras orang lain, hanya melihat sesuatu dari keuntungan yang didapatnya saat ini. Maka tak heran dalam setiap pemilu money politics adalah cara yang paling ampuh dalam membeli suara masyarakat, maka tak heran jika para pahlawan yang membela tanah air baik yang masih ada maupun yang sudah tiada tidak mendapatkan penghidupan yang layak dan sudah dilupakan orang, maka tak heran para atlit yang mengharumkan nama bangsa banyak yang menjadi buruh kasar di hari tuanya. Ya seperti itulah potret kehidupan kebanyakan dari masyarakat kita, jadi jangan bersedih lagi Aa…

Tebet, 25 Agustus 2009

Mang Dudi

Penilaian Alloh dan Penilaian Manusia

Penilaian manusia memang seringkali berbeda dengan penilaian Alloh, masih ingat tentang kisah seorang istri yang ditinggalkan suaminya untuk berjihad. Sang suami berpesan “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Kemudian ada orang yang membawa berita bahwa orang tuanya sakit keras dan ingin dijenguk, tetapi wanita itu menolak untuk menjenguk orang tuanya karena memegang amanah dari suaminya. Sampai akhirnya orang yang pembawa pesan dari keluarganya itu menyampaikan berita tentang kematian orang tuanya tersebut. Sang wanita tentu sangat sedih mendengarnya dan kemungkinan sangat ingin melihat wajah orang tuanya sebelum dikuburkan, tetapi tetap saja dia menolak untuk pergi dari rumahnya karena amanah suaminya yang tetap teguh ia jaga.

Kita sebagai manusia, apalagi manusia yang hidup di zaman sekarang mungkin akan menilai wanita itu sebagai anak yang durhaka, sebagai orang yang tidak memiliki perasaan, sebagai anak yang tidak tahu balas budi, dan banyak penilaian negatif lainnya. Tetapi penilaian kita sebagai manusia berbeda dengan penilaian Alloh, kita tentu tahu akhir kisah itu, bahwa orang tuanya itu masuk ke dalam syurga karena kesholihan anaknya itu. Kenapa bisa? Ya dalam penilaian Alloh, orang tua itu telah berhasil mendidik anaknya menjadi seorang istri yang sholihah. Kisah yang luar biasa.

Ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kita sebagai manusia sering kali salah dalam menilai sesuatu. Kebanyakan dari kita lebih berpegang pada apa yang disebut dengan kebenaran mayoritas, apa yang diyakini oleh sebagian besar orang adalah benar maka kita anggap hal itu sebagai kebenaran pula. Kita harus berhati-hati dalam menyikapi hal ini, jangan sampai terbawa oleh arus yang sebenarnya tidak benar ini. Jangan sampai kita menganggap berita yang banyak beredar di sekitar kita sebagai suatu kebenaran, dan ikut-ikutan untuk mengomentari hal tersebut. Sebaiknya kita tidak mengomentari hal-hal yang kita sendiri sebenarnya kurang faham dalam hal itu. Jangan sampai dosa kita bertambah karena kita tidak bisa menahan lidah kita untuk mengomentari suatu berita yang belum tentu kebenarannya. Untuk berita yang benar saja, kita bisa salah menilai. Seperti kisah tentang wanita sholihah yang telah diceritakan sebelumnya. Apalagi untuk berita yang kita tidak tahu kebenarannya yang begitu marak dewasa ini baik berita gossip ataupun berita-berita lain yang ada di media, utamanya di televisi. Kita tidak tahu siapa sebenarnya yang membawa berita itu, kita tidak tahu karakter orang yang menulis berita itu. Ada kemungkinan berita tersebut telah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menyudutkan pihak-pihak tertentu.

Maka cara yang paling tepat adalah tabayyun bila kita mendengar sebuah berita, terutama berita dari orang fasik. Seperti firman Alloh, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al-Hujuraat [49]: 6). Bila telah tahu kejadian yang sebenarnya dari berita tersebut, jangan langsung menilai isi berita tersebut sebagai suatu kebenaran. Dengan penilaian kita sebagai manusia bisa saja kita salah menilai tentang hakikat sebenarnya dari suatu kejadian, kebenaran absolut dari suatu berita. Tetapi alangkah tepatnya bila kita menelaahnya, mempelajarinya, lalu menilainya berdasarkan tuntunan yang telah diberikan Alloh dan Rosul-Nya. Apabila kita orang yang kurang faham tentang ilmunya, maka sebaiknya kita bertanya kepada orang yang ahli dan bisa kita percayai. Tetapi apabila menurut kita hal itu merepotkan, dan memakan waktu serta tenaga kita, padahal berita tersebut tidak ada artinya untuk kita, seperti berita gossip, pejabat yang berselingkuh, dan lain sebagainya. Maka sebaiknya kita diam dan tidak berkomentar, dan jangan menyebarkannya kepada orang lain apalagi sampai mencaci maki orang-orang yang terlibat didalamnya. Orang yang paling ahli dan faham pun bisa salah dalam menilai sesuatu, apalagi orang yang awam akan hal itu. Maka camkanlah hal tersebut baik-baik.

Alangkah indahnya bila manusia tidak terjerumus kepada penilaian yang salah, penilaian yang tidak benar hanya karena mengikuti hawa nafsu kita sendiri. Penilaian itu harus kita kembalikan kepada penilaian Alloh, kebenaran yang mutlak, kebenaran yang sebenar-benarnya. Kita hidup tidaklah lama di dunia, semoga kita bisa berbuat yang terbaik untuk diri kita, berbuat yang terbaik untuk orang lain, dan yang paling utama berbuat yang terbaik untuk Alloh Azza wa Jalla. Semoga kita bisa menjadi manusia yang terbaik di mata Alloh, walaupun harus telihat jelek di mata manusia. Semoga kita menjadi penilai yang baik, dan bukan sebagai penilai yang buruk. Semoga Alloh mengampuni segala dosa kita, atas penilaian kita yang salah pada orang lain. Amin.

Bogor, 18 Agustus 2009

Mang Dudi

Cintailah dengan sepenuh cinta

Kita mungkin sering tidak sadar dengan apa yang kita punya, dan baru merasa kehilangan ketika yang kita miliki itu tidak ada saat kita butuhkan. Jangankan untuk hal-hal yang besar, untuk hal kecilpun biasanya akan seperti itu. Pernahkah suatu ketika kita hendak menancapkan sebuah paku pada dinding, kita tentu akan membutuhkan sebuah palu untuk melakukannya. Padahal selama kita tidak merasa membutuhkannya, kita tidak hiraukan apakah palu itu ada atau tidak. Ada di depan mata pun tidak kita lihat, kita biarkan palu itu begitu saja. Begitu kita membutuhkannya, kita akan sibuk mencarinya. Beruntunglah yang masih bisa menemukannya, tetapi yang tidak bisa menemukan palu itu (entah karena hilang atau lupa menyimpannya) akan begitu terasa rasa hilangnya itu. Itu hanya sebuah palu…

Lalu bagaimana dengan kehilangan yang begitu besar, kehilangan orang tua, istri, suami, anak, kakak, adik, keluarga, sahabat, atau orang yang kita kasihi? Baik itu karena terpisah oleh tempat, waktu, ataupun terpisah untuk selamanya karena kematian? Pasti akan menimbulkan kesedihan yang begitu mendalam dan akan membuat penyesalan yang begitu besar apabila selama mereka masih ada kita tidak berbuat yang terbaik untuk mereka. Kebanyakan dari kita berlaku seperti kepada palu itu, ketika mereka masih ada kita tidak merasakan keistimewaan akan keberadaan mereka, kita tidak terlalu begitu peduli dengan kehadiran mereka, seolah-olah itu hanya hal biasa saja. Berbeda sekali ketika kita membutuhkan mereka, tiadanya mereka akan membuat kita merasa sangat kehilangan.

Ya semua orang sering kali tidak mensyukuri apa yang dia miliki, yang biasanya dipikirkan adalah apa yang luput dari dia. Seperti kata pepatah You don’t know what you’ve got, till you lose it. Kita tidak tahu apa yang kita miliki, sampai kita kehilangannya. Bersyukurlah dengan apa yang engkau miliki sekarang, maka Allah akan menambah nikmatnya kepadamu. Seperti firman-Nya, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14] : 7). Bersyukurlah dengan memanfaatkan apa yang ada padamu dengan sebaik-baiknya, bersyukurlah dengan menempatkan apa yang kamu miliki pada tempat yang istimewa di hatimu. Cintailah orang tua, istri, suami, anak, kakak, adik, keluarga, sahabat, atau orang yang kita kasihi dengan cinta yang sebenar-benarnya, dengan cinta yang penuh pembuktian, bukan cinta yang hanya sekedar kata dan rasa. Cintailah mereka dengan sepenuh cinta.

Berbuatlah yang terbaik untuk orang yang kamu cintai selagi mereka masih ada, agar kamu tidak diluputi penyesalan nantinya. Tetapi apabila mereka sudah tiada, tingkatkanlah kualitas dan kuantitas ibadahmu dan banyak-banyaklah berdoa untuk kita dan juga untuk mereka. Sehingga bila kita tidak bisa bersama mereka lagi di dunia, semoga kita bisa berkumpul lagi dengan mereka di jannah-Nya. Amin.

Karet, 14 Agustus 2009

Mang Dudi

Kesia-siaan yang patut ditangisi

Subhanallah, sudah lama sekali rasanya diri ini tidak pernah menulis lagi. Bahkan sudah tidak ingat, kapan terakhir kali menulis di weblog ini. Sifat manusia, itulah yang mungkin sedang melanda diri saya ini. Sifat yang mungkin juga banyak dialami oleh orang-orang kebanyakan. Ya, benar sekali, sifat itu adalah sifat malas. Kemalasan memang selalu datang menghampiri siapapun tanpa pernah memberikan kesempatan orang itu untuk menyadarinya. Kemalasan, sifat manusia yang bisa membunuh kreatifitas orang yang mengalaminya. Sungguh suatu sifat yang harus dijauhi oleh setiap manusia yang ingin selalu mengaktualisasikan dirinya.

Tetapi ternyata tidak hanya itu masalahnya, bukan hanya sifat malas sebagai satu-satunya alasan saya tidak menulis selama ini. Masalah yang lain adalah masalah ide. Tetapi jangan salah, bukan karena saya tidak memiliki ide di kepala ini untuk dijadikan sebuah tulisan. Justru sebaliknya, ide itu begitu banyak, bahkan jumlahnya mungkin puluhan, ratusan atau mungkin ribuan. Dengan begitu banyaknya ide itu, sehingga saya sendiri menjadi bingung apa yang pertama kali harus dituliskan.

Ya, benar. Mungkin justru hal inilah yang sebenarnya masalah dalam diri saya. Seorang perfeksionis, yang menginginkan segala sesuatu berjalan sempurna dan memiliki perencanaan yang baik. Ingin selalu menghasilkan suatu karya yang terbaik tanpa cela sedikitpun. Karya yang bisa membuat orang terpukau ketika melihatnya, yang membuat orang terkagum-kagum ketika membacanya. Ya, kesempurnaan yang dicari, sehingga tidak berani memulai apa yang telah menjadi inspirasi. Tidak mau ada kesalahan dan kealpaan dalam karya yang dihasilkan.

Tetapi disitulah kelemahannya, saya sibuk dengan perencanaan, tetapi lupa dengan pelaksanaannya. Ketakutan akan kegagalan dalam berkarya, dan mendapatkan cemoohan orang lain. Telah membelenggu saya dalam sebuah sikap diam, sikap yang tanpa disadari telah membunuh potensi diri ini. Padahal kesalahan dan kegagalan adalah suatu keniscayaan, suatu tahapan yang dibutuhkan sebelum mendapatkan apa yang kita inginkan. Agar kita selalu ingat akan perjuangannya, dan tidak berlebihan dalam merayakan apa telah dihasilkan.

Sungguh sesuatu hal yang sia-sia jika dipikirkan dengan mendalam. Ya, rasanya sudah banyak waktu yang saya lewatkan tanpa berbagi ilmu dengan orang lain. Telah banyak pemikiran yang hilang tanpa menjadikannya sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Padahal jika direnungkan, jika saya menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, tanpa peduli dengan kesempurnaan isi dan bahasanya. Sudah berapa banyak tulisan yang telah saya hasilkan dalam kurun waktu satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun. Tak bisa dibayangkan. Tentu akan sangat banyak sekali tulisan yang telah saya buat. Coba renungkan, berapa banyak ide yang di ada di kepala saya ini bisa dibaca oleh orang lain? Berapa banyak ilmu yang bisa saya bagi dengan orang lain?

Sungguh, kesia-siaan ini patut ditangisi. Kesia-sian seseorang yang tidak melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain dan dunia ini. Walaupun sesuatu itu hanya berupa tulisan kecil yang mungkin kurang berarti. Tetapi semoga, ya semoga. Saya kembali bisa menulis disini. Dan tulisan saya itu akan bisa memberikan inspirasi untuk orang lain. Bisa memberi warna lain untuk dunia ini. Ya semoga…

Karet, 10 Juli 2009

Mang Dudi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.